Orang Tibet kuno merupakan tipikal pengembara yang mengembara di daratan. Lingkungan tandus Tibet membuat mereka belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan kondisi alam.

Image source Dream Holiday
Di tempat ini, sejarah pemakaman langit berasal. Terletak di atas ketinggian 3500 meter di atas permukaan laut di Gunung Riyue atau gunung matahari dan bulan, Xining, China. Pada abad ke 7, Raja Tibet, Songtsen Gampo menikah dengan Putri Wengcheng dari Dinasti Tang dan dialah yang memperkenalkan budaya Buddha ke Tibet. Pada masa itu terdapat dua agama utama di Tibet, yaitu agama Bon dan agama Buddha. Dan seiring berjalannya waktu, muncullah budaya yang terbentuk dari dua agama ini, yaitu budaya yang kemudian dilakukan oleh orang Buddha Tibet sampai sekarang.
Yarchen Gar atau yang bernama resmi “Kuil Yaqen Orqyan”, adalah sebuah biara Buddha Tibetan yang dihuni oleh 10.000 biksu. Salah satu kuil tempat seorang Chograp berasal. Biksu yang bertugas melakukan ritual pemakaman langit. Dibawah bimbingan Rinpoche, Chograp ditunjuk, seseorang yang dianggap sebagai guru agung para biksu dan Buddha yang hidup di dunia.
Para biksu mempelajari dan mempraktekkan pelajaran Buddha untuk mendapatkan pencerahan. Seorang biksu harus menyelesaikan 100.000 sujud penuh sebelum mereka melakukan pertapaan persembahan.
Semua ritual yang mereka lakukan ini melatih biksu agar dapat meninggalkan segala bentuk harta duniawi yang berharga. – Mereka mempelajari asketisme, paham atau ajaran yang meninggalkan kehidupan yang bersifat duniawi dan materi untuk mencapai kesempurnaan.
Setelah berjam-jam berdoa, Chograp pergi menuju ke bukit untuk melaksanakan tugasnya sebagai ahli pemakaman langit di Yarchen Gar.
Lukisan ini menunjukkan bagaimana Bodhisattva akan menunjukkan diri di depan para jiwa yang dikehidupan selanjutnya. Menurut “kitab orang mati” asal Tibet yang ditulis pada abad ke-8 yang merupakan panduan menuju alam baka, dikatakan bahwa Bodhisattva akan menampakkan dirinya kepada sebuah jiwa sebagai penyayang atau pemarah, dan menuntun jiwa almarhum untuk memasuki alam baka. – Burung Nasar di Pemakaman Langit ini mereka anggap seperti Bodhisattva.
Sebelum membawa almarhum ke pemakaman langit, para biksu melakukan ritual Phowa untuk almarhum. Phowa adalah ritual yang dilakukan untuk mengantar jiwa almarhum menuju alam baka. Ritual ini dilakukan kurang lebih selama 30 menit tanpa ada gangguan sama sekali dari luar. Sampai lubang dibuat di atas kepala almarhum, ritual Phowa selesai. Mereka percaya bahwa kepala almarhum adalah tempat dimana Amithaba mengangkat roh almarhum dari tubuh.
Setelah ritual Phowa selesai dilaksanakan, almarhum akan dipindahkan ke biara tanpa tandu atau peti mati. Sebelum jenazah dimakamkan di langit, ritual dilakukan sekali lagi dengan biksu tertinggi.
Hanya para pria yang mengantar jenazah menuju area pemakaman langit. Tubuh jenazah diikat dengan posisi seperti bayi di dalam janin, dengan harapan almarhum bisa terlahir kembali di kehidupan berikutnya.
Doa-doa bernada rendah terus dibacakan, pemakaman langit dimulai setelah rambut dan kuku almarhum diberikan kepada anggota keluarga. Dua bagian anggota tubuh almarhum tersebut akan digunakan untuk upacara doa selama 49 hari.
Tubuh almarhum akan dipotong-potong, kulit dan daging dipisahkan dari tulang belulang, dicampur tepung, dan pemakaman langit sudah melalui tahap paling akhir.
Proses kremasi sangat sulit dilakukan di sebagian besar Tibet. Penduduk yang tinggal di atas garis pepohonan. Hanya orang dengan status sosial yang sangat tinggi yang mungkin akan dilakukan prosesi kremasi pada akhir hayatnya.
Mengubur jenazah juga sangat sulit dilakukan. Tanah di dataran tinggi Tibet sangatlah keras dan berbatu, tanpa alat yang memadai, hal itu cukup mendekati mustahil untuk dilakukan.
Tibet memiliki 1.000 lebih tempat pemakaman langit dengan kurang lebih 100 orang Chograp. Ritual ini dilaksanakan di kuil-kuil. Beberapa diantaranya adalah Kuil Drigung Thil, kuil terbesar di Tibet yang mampu memproses 10 jenazah dalam sehari.
Bukan hal yang mudah untuk mengunjungi kuil - kuil di Tibet. Hal itu karena pemerintah China membuat aturan yang sangat ketat mengenai hal ini. Meskipun pelaksanaan pemakaman langit memang penuh kontroversi dan dilakukan sampai sekarang, pemerintah China juga memiliki kepentingan politik akan batasan ini.
Diantara tahun 2017 dan 2018, paling tidak ada 4.820 biksu Tibet dan biksu China Han yang dikeluarkan dari Larung Gar. Lebih dari 7.000 tempat tinggal dan bangunan lainnya diruntuhkan. Begitu juga di Yarchen Gar, ada sekitar 2000 tempat tinggal biksu dirubuhkan, dan para biksu dikeluarkan dari Yarchen Gar.
Cukup sulit mengakses dan mengunjungi tempat-tempat dilaksanakan pemakaman langit. Menyewa jasa perjalanan profesional menjadi opsi yang paling mungkin bisa dipilih.
Saat ada wisatawan yang beruntung dan dapat melihat secara langsung, mereka akan dikejutkan dengan kondisi anggota keluarga almarhum yang tidak meneteskan air mata sedikitpun. Meski mereka melihat prosesi pemakaman langit secara langsung. Mereka mempercayai bahwa, jika mereka menangis, mereka akan mempersulit perjalanan almarhum menuju dunia selanjutnya. Atau mungkin, karena tradisi ini sudah berjalan 1000 tahun.
Meskipun ritual ini terlihat sangat kejam, tanpa menghakimi, tanpa merekam, hanya melihat, dan diam, adalah keharusan bagi para wisatawan asing yang berkunjung ke pemakaman langit.
0 Comments