Masyarakat lokal dari Lembah Khumbu menjual hasil panennya dan membeli kebutuhan mereka di Namche. Untuk sampai ke sini, mereka harus melewati Nangpa La, sebuah jalur pegunungan dengan ketinggian 5715 meter di atas permukaan laut. Warga dari Tibet juga datang ke sini untuk memasarkan produk yang telah mereka bawa dari China. Beginilah aktivitas seluruh penduduk Serpa sebelum akhirnya wisata pendakian ke puncak Everest mulai tenar.
Suku Sherpa & Budaya Lamanya
![]() |
| Image source Sunny Holiday Nepal |
![]() |
| Image Source Independent |
Dia adalah Nima Rinji, pendaki termuda yang berhasil menaklukkan 14 puncak tertinggi di dunia. Dia adalah salah satu dari sekian banyak sherpa yang menjadi fondasi utama bagi para pendaki profesional meraih kesuksesan di pegunungan es paling ekstrem di dunia. Peran mereka kerap menentukan hidup-matinya sebuah ekspedisi.
Pada tahun 1953, Edmund Hillary mendapat gelar Sir dari Ratu Elizabeth II karena berhasil menyandang gelar sebagai orang pertama yang mencapai puncak tertinggi dunia. Sedangkan Tenzing Norgay, seorang sherpa yang mendampingi dan memandu Edmund menuju puncak everest, sama sekali tidak mendapatkan penghargaan seperti yang diterima oleh Edmund.![]() |
| Source Image National Geographic |
Siapakah sebenarnya sherpa dan mengapa mereka mau menjadi bayangan para pengejar impian.
Sherpa merupakan salah satu grup etnis Tibet yang berasal dari wilayah pegunungan di Nepal, County Tingri di Daerah Otonomi Tibet, dan Himalaya. Nama Sherpa berasal dari kata Tibet yang berarti Orang dari Timur. Sebutan ini merujuk pada asal usul leluhur mereka dari wilayah Kham di Tibet Timur, menuju lembah-lembah tinggi di Nepal yang dikenal sebagai Solukhumbu.
![]() |
| Image source Super Live |
Karena kepercayaan ini, sherpa mempercayai bahwa gunung adalah rumah para dewa. Setiap pendakian adalah momen yang sakral bagi mereka. Tidak ada satupun sherpa yang akan menginjakkan kaki di lereng everest tanpa melakukan ritual puja terlebih dahulu. Bagi sherpa, pendakian tanpa puja, sama halnya mengundang murka para dewa gunung. Bagitu kuatnya keyakinan ini, ekspedisi komersial modern pun harus mematuhinya untuk menghormati kearifan yang telah dipertahankan selama berabad - abad.
Sebelum pariwisata pendakian menarik perhatian dunia, sherpa bukanlah pemandu. Aktivitas sehari-hari mereka adalah pedagang garam dan wol. Untuk menjualnya, mereka harus melintasi jalur-jalur berbahaya antara Tibet dan Nepal. Selain berdagang, sebagian lainnya bertahan hidup dengan menggembala Yak dan bertani kentang di lahan-lahan miring di ketinggian.
Namun, perubahan besar terjadi pada awal abad ke 10. Ekspedisi-ekspedisi Eropa banyak yang berdatangan ke Himalaya. Orang-orang Inggris penasaran untuk melihat puncak tertinggi dunia lebih dekat. Saat menyadari bahwa penduduk lokal memiliki pengetahuan medan dan ketahanan fisik yang kuat, mereka mulai merekrut sherpa sebagai porter dan pemandu.
![]() |
| Image source Eplorers Web |
Namun, bagi Kami Rita seorang sherpa legendaris yang berhasil memecahkan rekor pendakian terbanyak ke puncak gunung everest, harga jasanya dibandrol mulai 34.000 sampai 170.000 dollar per pendakian.
Keselamatan pendaki sebanding lurus dengan berapa banyak pemandu telah mencapai puncak everest. Semakin banyak seorang pemandu mencapai puncak, pendaki harus semakin patuh pada setiap arahannya. Dan, semakin mahal pula harga yang mereka bayar kepada sherpa.
Berdasarkan data pariwisata terbaru, pada tahun 2025 terdapat 374 pendaki dari 49 negara yang mencoba mendaki Everest. Dari semua pendakian itu menghasilkan sekitar 4 juta dolar Amerika Serikat hanya dari biaya izinnya saja. Sedangkan biaya keseluruhannya agar bisa mencapai puncak everest saja sekitar 1,2 miliaran rupiah.
Selama lebih dari seabad, orang-orang Eropa ingin melihat lebih dekat misteri tempat yang konon tak terjangkau ini. Trekking telah memberikan sumber pendapatan lain bagi penduduk pegunungan ini. Sebagai carrier bagi para wisatawan asing yang tertarik ke sini karena mitos Everest menjadi opsi yang lebih menguntungkan daripada menemani kafilah garam dalam perjalanan.
Setali tiga uang, Migma Norbu juga mendapatkan keuntungan dari daya tarik puncak Everest ini. Dia menyediakan penginapan yang bisa menerima 40 orang per harinya. Ekspedisi demi ekspedisi, Migma telah mengumpulkan banyak peninggalan dari sebuah era dalam sejarah penaklukan Gunung Everest.
Dalam 50 tahun terakhir, fasilitas untuk menunjang ekspedisi menuju puncak everest terus lebih baik. Sherpa Galzin, salah satu orang yang mengambil inisiatif di ketinggian ekstrem ini. Di antara Base Camp Everest (5.364 m) dan Camp I (6.065 m) di sebelah barat gunung Everest, terdapat The Ice Fall Khumbu. Sebuah labirin gletser yang berbahaya dan terus bergerak, terdiri dari menara es dan celah-celah dalam. Jalur ini bergeser hingga 1,2 meter (4 kaki) setiap hari, menjadikannya salah satu tahapan paling berbahaya di jalur pendakian selatan. Jalur dengan tikungan tajam dan medan yang ekstrem ini adalah jalur utama untuk mencapai puncak.
Melihat jumlah para ekspedisi puncak everest terus meningkat, pada tahun 1999 Gazlin menambahkan jembatan sederhana untuk melewati celah jurang di sini. Dengan begitu, para pendaki bisa menghemat waktu dalam perjalanan mereka.
Bagi Galzin, memberikan kemudahan ini tidak hanya diperuntukkan bagi para pendatang. Bagi dia, para Sherpa lebih membutuhkannya. Dengan beban yang mereka bawa, tanpa jembatan sederhana ini, beban mereka bisa menjadi 2 sampai tiga kali lipat lebih berat dari sebelumnya.
Di ketinggian 4800 meter di atas permukaan laut, terdapat tempat yang disebut sebagai monumen batu. Di Chorten, para sherpa yang gugur saat perjalanan ke puncak dibuatkan tugu dan dituliskan namanya di sini. Sebagian besar dari jenazah mereka hilang di gunung Everest.
Mereka bukan sekadar pengangkut barang. Di balik setiap langkah yang mereka ambil, ada keluarga yang menunggu mereka pulang, ada anak-anak yang ingin mereka sekolahkan, dan ada kehidupan yang bergantung pada setiap pendakian yang mereka jalani. Bagi banyak Sherpa, menjadi porter adalah pilihan yang mampu memberikan penghasilan jauh lebih besar dibanding pekerjaan lain di desa mereka, meski taruhannya adalah nyawa di lereng gunung tertinggi di dunia. Mereka menantang longsoran salju, badai, retakan es, hingga tipisnya oksigen demi membantu orang lain meraih impian berdiri di puncak Everest. Karena itu, ketika kita mengagumi para pendaki yang berhasil mencapai puncak, jangan lupakan sosok-sosok yang berjalan di depan mereka. Tanpa keberanian, pengorbanan, dan dedikasi para Sherpa, banyak impian untuk menaklukkan atap dunia mungkin tak akan pernah menjadi kenyataan.





0 Comments