Ad Code

Responsive Advertisement

Kastil Kapas, Turki, Pamukkale: Kolam Favorit Romawi Kuno Berendam

 Pamukkale di wilayah Aegea, Turki, adalah salah satu situs Warisan Dunia UNESCO paling terkenal di Turkey dan dikenal karena lanskap putihnya yang tampak tak nyata. Tempat ini sering dijuluki “Cotton Castle” atau “Istana Kapas” karena deretan teras travertine putihnya terlihat seperti hamparan kapas raksasa yang membeku di lereng pegunungan.

Sejak era Romawi, Pamukkale sudah dikenal sebagai "kota spa", tempat para wisatawan datang untuk bersantai di air hangat yang menenangkan dan bahkan dipercaya memiliki manfaat terapi.

Image via this island life

Bagaimana Pamukkale di Turki Bisa Seindah Itu?

Pamukkale memang merupakan kawasan kecil, tapi memiliki banyak tempat luar biasa yang membuat kunjungan wisatawan berkesan. Beberapa di antaranya adalah reruntuhan Hierapolis, Sacred Pool atau Kolam Suci yang dipenuhi kolom marmer kuno, travertine berupa teras-teras endapan kalsium yang terbentuk ratusan bahkan ribuan tahun, Teater Romawi, serta museum arkeologi.

Keindahan pemandian ini terbentuk dari aliran mata air panas kaya mineral yang mengalir selama ribuan tahun. Kandungan kalsium di dalam air tersebut perlahan mengendap dan membentuk kolam-kolam travertine berwarna putih terang yang berundak-undak. Dan menariknya, saat berada di bawah teriknya sinar matahari, permukaan travertine memantulkan cahaya lembut yang membuat seluruh kawasan terlihat indah bercahaya.

Image via this island life
Fenomena geologi ini membuat Pamukkale sering dianggap sebagai salah satu lanskap paling unik di dunia. Formasi putihnya menciptakan ilusi seperti air terjun yang dibekukan oleh waktu.

Namun, Pamukkale bukan hanya terkenal karena pemandangannya. Mata air panas di kawasan ini juga dipercaya memiliki kandungan mineral yang bermanfaat bagi tubuh. Air hangatnya telah digunakan sejak zaman kuno sebagai tempat relaksasi dan terapi alami. Di beberapa kolam umum yang dibuka untuk pengunjung, wisatawan dapat berendam sambil menikmati panorama travertine putih di sekelilingnya.

Image via this island life
Meski begitu, kolam travertine ikonik yang sering muncul di foto-foto lama kini dilindungi ketat dan tidak boleh digunakan untuk berenang. Banyak foto wisatawan yang berdiri atau berenang di kolam travertine utama sebenarnya diambil puluhan tahun lalu, sebelum kawasan ini mendapatkan perlindungan konservasi yang lebih ketat.

Di atas kawasan travertine berdiri reruntuhan kota kuno Hierapolis, kota Romawi kuno yang dahulu berkembang sebagai pusat spa dan penyembuhan. Reruntuhan kota ini masih memperlihatkan teater megah, pemandian Romawi, jalan marmer, serta berbagai struktur kuno yang terawat dengan baik.

Image via BBC

Kolam Termal Cleopatra di Pamukkale

Salah satu tempat paling terkenal di Hierapolis adalah Cleopatra Pool atau Kolam Cleopatra. Kolam ini dipenuhi air hangat berwarna biru kehijauan dan dikelilingi reruntuhan kolom Romawi yang tenggelam di dalam air. Menurut legenda, Cleopatra pernah mandi di tempat ini, menjadikannya salah satu daya tarik paling populer di Pamukkale.

Image via BBC

Kolam termal ini dibangun pada masa Romawi setelah mereka menemukan bahwa air hangat Pamukkale dipercaya membantu meredakan berbagai penyakit seperti asma, arthritis, dan gangguan pencernaan.

Struktur kolam ini sempat runtuh akibat gempa besar pada tahun 60 Masehi. Namun, reruntuhan kolom dan ukiran batu yang jatuh ke dalam kolam justru menciptakan suasana historis yang unik pada pemandian mineral tersebut. Suhu air di kolam biasanya berada di kisaran 36–57°C, sehingga tetap nyaman bagi berbagai preferensi pengunjung.

Kota Kuno dan Reruntuhan Hierapolis

Kota kuno Hierapolis mulai terkenal ketika bangsa Romawi menemukan bahwa mata air berkalsium di kawasan tersebut memiliki khasiat penyembuhan. Kota ini kemudian diberikan kepada Raja Pergamon, Eumenes II, yang menamainya Hierapolis untuk menghormati Hiera, istri pendiri Dinasti Pergamon, Telesphorus.

Image via Tour ke Turki
 Yang membuat Hierapolis berbeda dari banyak tempat lain di dunia adalah lokasinya yang tidak dibangun di atas tanah biasa maupun di atas air, melainkan di atas endapan batu kapur yang terbentuk di sekitar mata air mineral. Hierapolis menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO karena banyaknya reruntuhan bersejarah yang tersebar di seluruh kota, termasuk area nekropolis yang menyimpan sarkofagus tokoh-tokoh penting dunia kuno seperti Marcus Aurelius.

Waktu Terbaik ke Pamukkale

Image via Get Your Guide
    Waktu terbaik untuk mengunjungi Pamukkale adalah saat pagi hari atau menjelang matahari terbenam. Cahaya matahari pada waktu tersebut membuat warna travertine terlihat lebih dramatis dan lembut. Golden hour menjelang sunset juga menjadi momen favorit fotografer karena seluruh kawasan tampak berwarna keemasan.

Warna travertine di Pamukkale juga berubah tergantung musim. Pada musim panas, beberapa kolam travertine yang dilindungi dapat terlihat lebih putih karena mengering, sementara pada musim yang lebih sejuk airnya tampak berwarna biru aqua terang.

Karena kawasan ini sangat terbuka dan minim tempat teduh, pengunjung disarankan menggunakan perlindungan dari sinar matahari seperti topi, sunscreen, dan membawa cukup air minum, terutama saat musim panas ketika suhu dapat mencapai 40 derajat Celsius.

Untuk menjelajahi seluruh kawasan Pamukkale dan Hierapolis dengan nyaman, setidaknya dibutuhkan waktu sekitar empat jam. Selain menikmati travertine dan reruntuhan kota kuno, banyak pengunjung juga datang untuk menyaksikan matahari terbenam yang menjadi salah satu panorama paling ikonik di kawasan ini.

Pamukkale bukan hanya destinasi wisata biasa. Tempat ini adalah perpaduan antara fenomena geologi, sejarah Romawi kuno, dan lanskap alam yang terasa seperti berasal dari dunia lain.

Post a Comment

0 Comments

Ad Code

Responsive Advertisement