Ad Code

Responsive Advertisement

Utrecht Dipenuhi Pengunjung, Turis Dihimbau Untuk Tidak Datang

Kanal-kanal indah, ladang tulip, dan kincir angin. Beberapa hal itu identik dengan satu nama negara. Belanda. Tapi ada yang unik setiap tahun di akhir April, Belanda menampilkan wajah yang berbeda. Jalanan berubah penuh dengan warna oranye, musik terdengar di berbagai sudut kota, pasar dadakan bermunculan, dan jutaan orang turun ke jalan untuk merayakan Hari Raja atau Koningsdag. Inilah salah satu festival nasional paling meriah di Eropa.

Hari Raja ini dirayakan setiap 27 April, bertepatan dengan ulang tahun Raja Belanda saat ini, Willem-Alexander, yang lahir pada 27 April 1967 di Utrecht. Meskipun dirayakan pada tanggal 27 April, perayaannya tidak selalu tepat pada tanggal tersebut. Jika tanggal tersebut jatuh pada hari Minggu, perayaan dimajukan menjadi 26 April. Aturan ini bertujuan agar masyarakat tetap dapat berpesta di jalanan, mengadakan pasar loak (vrijmarkt), dan merayakan libur nasional tersebut tanpa terbentur hari ibadah utama. Sejak Raja Willem-Alexander naik takhta pada tahun 2013, perayaan yang sebelumnya bernama Hari Ratu resmi berubah menjadi Hari Raja mulai tahun 2014.

Image via Dutch Review
Sejarah festival ini jauh lebih tua lagi dari Raja Willem-Alexander. Tradisi perayaan keluarga kerajaan di Belanda sudah dimulai sejak tahun 1885 dengan nama Prinsessedag atau Hari Putri, dimana perayaan ini untuk merayakan ulang tahun Putri Wilhelmina. Setelah Wilhelmina menjadi ratu, nama perayaan berubah menjadi Hari Ratu. Tradisi itu terus berlanjut pada masa Ratu Juliana dan Ratu Beatrix, sebelum akhirnya menjadi Hari Raja seperti sekarang.

Image via Elly Afriani
Yang membuat Hari Raja sangat populer di Belanda adalah karena ini bukan hanya sekadar seremoni kerajaan. Malahan, justru masyarakatlah yang menjadi pusat perayaan. Pada hari perayaan itu, hampir seluruh negeri mengenakan pakaian, topi, wig, atau aksesori berwarna oranye, warna kebangsaan Belanda yang berasal dari keluarga kerajaan House of Orange-Nassau. Kota-kota besar maupun kecil dipenuhi suasana santai, riuh, dan penuh kebersamaan.

Salah satu tradisi paling ikonik saat Hari Raja adalah Vrijmarkt, yang berarti pasar bebas. Satu kota bisa menjadi pasar. Benar-benar pasar. Jalananan penuh dengan orang berjualan. Pada hari tersebut, warga diperbolehkan menjual barang bekas di jalanan tanpa izin khusus. Trotoar, taman kota, hingga pinggir kanal berubah menjadi pasar raksasa terbuka. Barang yang dijual sangat beragam, mulai dari mainan anak-anak, pakaian bekas, buku lama, sepeda, peralatan rumah tangga, hingga barang antik. Harga pun relatif murah, menjadikannya surga bagi pencari barang unik dan wisatawan.

Image via Expatica
Selain menjadi pasar barang bekas, pada hari tersebut seluruh kota bisa menjadi pertunjukan seni dari berbagai macam pertunjukan. Oleh karena itu, Hari Raja juga seringkali identik dengan hiburan jalanan. Banyak warga memainkan musik, bernyanyi, menampilkan pertunjukan kecil, hingga menjual makanan rumahan. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun ikut berpartisipasi dengan membuka lapak sederhana atau memainkan alat musik untuk mendapatkan uang jajan tambahan. Inilah yang membuat festival ini terasa hangat dan akrab, bukan sekadar pesta besar.

Kota Amsterdam menjadi pusat perayaan paling terkenal. Kanal-kanalnya dipenuhi perahu pesta, musik DJ, dan ribuan orang berbaju oranye. Namun kota lain juga memiliki karakter berbeda. Utrecht, kota kelahiran Raja Willem-Alexander, menawarkan suasana yang lebih meriah dengan kanal klasik yang cantik. Den Haag lebih ramah keluarga dan sedikit lebih tenang, sementara Rotterdam terkenal dengan nuansa modern dan festival musik luar ruang. Bahkan kota-kota kecil sering dianggap lebih nyaman bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana lokal.

Namun, saat kondisi sudah tidak memungkinkan, adakalanya pemerintah setempat menghimbau wisatawan untuk tidak mengunjungi Utrecht karena sudah terlalu sesak dengan pengunjung. 

Bagi wisatawan, Hari Raja adalah waktu terbaik melihat sisi Belanda yang paling hidup. Negara yang biasanya tertib dan tenang berubah menjadi pesta rakyat terbuka di jalan-jalan. Banyak toko tutup karena hari libur nasional, tetapi jalanan justru menjadi panggung utama. Jika ingin datang, disarankan memesan hotel dan transportasi jauh hari karena permintaan sangat tinggi.

Hari Raja menunjukkan bahwa identitas nasional tidak selalu dirayakan dengan parade resmi. Di Belanda, ulang tahun raja justru menjadi pesta rakyat terbesar, di mana seluruh negara ikut berpesta bersama. Dari pasar barang bekas hingga lautan warna oranye, Hari Raja adalah simbol kebersamaan yang unik dan sulit ditemukan di tempat lain.

Sumber :

ellyafriani.blog

Post a Comment

0 Comments

Ad Code

Responsive Advertisement